INFO Breaking
Live
wb_sunny

Breaking News

 


Oleh: Jaya Suprana


Jsatu - Ternyata Kamus Besar Bahasa Indonesia inkonsisten dalam memaknakan kata. Alih-alih mengoreksi kekeliruan malah membenarkan keliru-kaprahan yang telah terlanjur dianggap benar oleh masyarakat. KBBI kerap memaknakan satu kata yang sama dalam beberapa makna yang saling beda satu dengan lainnya.

KBBI memulti-manakan kata “lagi” sebagai  1 adv sedang (dalam keadaan melakukan dan sebagainya); masih: jangan berisik, ayah lagi tidur; 2 adv tambah sekian (atau sedemikian) pula: tunggu sebentar lagi. 3 adv kembali (berbuat dan sebagainya) seperti semula; berulang seperti semula; pula: kemarin sudah menonton, sekarang hendak menonton lagi 4 p dan; serta; juga: anak itu pandai lagi rajin; istrinya muda, cantik, lagi kaya; 5 p partikel yang dipakai untuk menekankan kata atau kalimat yang mendahuluinya (mengandung makna; sama sekali, betul-betul, amat sangat, dan sebagainya): kekejaman tentara penjajah sungguh tak terkatakan lagi ; penderitaan rakyat Ethiopia sudah tidak tertahan lagi ; lagi pula lebih-lebih; dan lagi; tambahan pula; lagi pun lagi pula; lagi-la·gi adv berulang lagi; kembali lagi: lagi-lagi  mau pinjam uang; lagi-lagi kau berkelahi dengan dia;  la·gi·an adv cak lagi pula; tambahan lagi: lagian apa gunanya aku datang; se·la·gi adv 1 selama (masih, belum); sementara (masih, belum): selagi hayat dikandung badan, tidak akan lupa; 2 ketika; pada masa; semasa: pada malam hari, selagi orang tidur, ia keluar dari tempat persembunyiannya.

Mungkin karena memang pada dasarnya konservatif, maka saya bertahan menggunakan kata lagi, bukan dalam makna sedang namun dalam makna tambah sekian, kembali, juga dan betul-betul. Mohon dimaafkan saya selalu menghindari kata lagi dalam makna sedang namun konsisten serta konsekuen dalam makna tambah sekian, kembali, juga dan betul-betul. Saya juga tidak segan menggunakan kata lagi-lagi bukan dalam makna sedang-sedang tetapi dalam makna berulang lagi atau kembali. Maka saya tidak menggunakan kata lagi dalam arti sedang seperti di dalam kalimat : jangan berisik, ayah lagi tidur namun : jangan berisik, ayah sedang tidur. Saya tidak menulis selagi namun selama hayat dikandung badan dan malam hari bukan selagi namun ketika orang tidur.

Sebenarnya tidak susah mengganti kata lagi dengan sedang meski jangan sekali-kali mengganti istilah lagi-lagi menjadi sedang-sedang. Namun memang tidak mudah mengoreksi kekeliruan kolektif dalam berbahasa apalagi (bukan apasedang) jika masyarakat mengaprahkan kekeliruan yang sudah terlanjur dianggap benar, akibat masyarakat sudah terbiasa dengan makna kata yang keliru. Seperti yang lagi-lagi terjadi pada Konsumerisme, Machiavellisme, salah satu, ulang tahun, semena-mena, canggih yang secara kolektif terlanjur dianggap benar, padahal sebenarnya keliru.

0 Comments:

Responsive

Ads

Here