INFO Breaking
Live
wb_sunny

Breaking News

M.H. Thamrin: Di Atas Mimbar Volksraad Di Bawah Langit Kemerdekaan

M.H. Thamrin: Di Atas Mimbar Volksraad Di Bawah Langit Kemerdekaan

 


Oleh: Mikhail Adam - Peneliti Ekopol di Nusantara Centre


Jsatu - Merayakan Indonesia dan membuatnya menjadi “raya serta jaya.” Itulah tema program Nusantara Centre pada Juni-Juli 2026. Program ini disusun untuk menyambut kemerdekaan ke-81. 

Cara kami merayakannya adalah membuat kelas jenius pikiran para pendiri republik, membukukannya, memfilemkannya, dan menyebarkannya dalam semangat “kedaulatan berbangsa dan kesentosaan bernegara.” Thamrin adalah tokoh pertama dari tujuh belas tokoh yang terpilih. Mari kita baca, teliti, dan teladani.

Ia tak banyak dibaca, apalagi diperbincangkan. Padahal jasanya tak terkira. 

Pada pagi yang lembap di Batavia, seperti tirai tipis yang belum sepenuhnya terangkat, ketika kanal-kanal masih berembun dan perahu kayu berderit perlahan di pelabuhan, seorang pemuda Betawi menatap kota yang ia cintai. Kota itu menatapnya kembali seolah sejarah memberi pertanda zaman. Orang itu adalah Mohammad Husni Thamrin.

M.H. Thamrin, begitu ia biasa disapa, adalah anak Jakarta yang lahir di persimpangan dunia lama dan baru. Saat kolonialisme Belanda sudah hamil tua dan embrio gagasan kemerdekaan Republik sedang bertumbuh.

Thamrin belajar satu hal mendasar: kolonialisme tidak pernah benar-benar tidur. Ia adalah udara yang dihirup tanpa sadar, sistemik dan berskala raksasa.

Sejak muda ia belajar dari jalanan Batavia, dari keramaian pasar, dari lapangan sepak bola, dari percakapan sederhana warga yang ingin dipandang sebagai manusia, bukan angka pajak. Pendidikan kolonial memberinya pena, tetapi kehidupan Jakarta memberinya nurani.

Thamrin tumbuh dengan daya jelajah politik yang luas dan multidimensi. Ia terlibat di Gemeenteraad, Volksraad, Kaoem Betawi, dan Partai Indonesia Raya.

“Batavia bukan milik pemerintah,” suaranya rendah namun tajam. “Batavia adalah milik rakyat.”

Ia menjadikan Gemeenteraad sebagai panggung gagasan progresif. Lewat program _Kampongs Verbetering_, ia mendorong perbaikan kampung di Batavia.

Tahun 1927, di usia relatif muda, Thamrin menjadi anggota Volksraad. Bagi pribumi, parlemen kolonial itu adalah panggung ilusi yang penuh tipu daya. Namun Thamrin melihatnya sebagai ruang yang bisa dipakai untuk melawan.

Seorang pejabat Belanda berkata kepadanya: “Mijnheer Thamrin... Volksraad bukan tempat untuk mimpi liar.” Thamrin tersenyum. “Justru karena itulah saya datang, Tuan. Untuk memulai mimpi itu.”

Dari kursi yang semula hanya hiasan politik, ia bangkit sebagai suara nurani. Ia berbicara tentang perbaikan nasib anak bangsa, hak pendidikan untuk semua, menentang pajak yang menindas, dan memelopori pendirian fakultas sastra. “Bangsa tanpa bahasa adalah bangsa tanpa masa depan,” tegasnya.

Pidatonya tentang _poenali sanctie_, hukuman kejam bagi buruh di Deli, mengguncang hingga ke Washington. Tekanan internasional itu akhirnya membuat sistem kejam tersebut dihapus.

Di Volksraad ia membangun Fraksi Nasional. Ia memperjuangkan penggantian sebutan _Nederland-Indië_ dan _inlander_ menjadi _Indonesia_. Baginya, identitas nasional adalah langkah pertama menuju kemerdekaan.

Thamrin memilih jalan kooperatif. Ia menggunakan instrumen kolonial untuk membangun kapasitas rakyat. Struktur gerakan yang disiapkan kelak akan menghajar balik kekuasaan kolonial. Ia menjadi jembatan antara kelompok radikal dan kooperatif, karena memahami keduanya penting bagi kemerdekaan.

Sebagaimana ia mengguncang Volksraad dengan kata, Thamrin juga menyalakan semangat di jalanan lewat sepak bola.

Ketika stadion dipenuhi tulisan “Verboden voor Inlanders en Honden”, ia mengeluarkan biaya pribadi membangun lapangan untuk bumiputra. 

“Di lapangan, kita setara,” katanya. “Di situlah republik disemai sebelum bertumbuh.”

Pada 1928 ia mendirikan _Vorstenlandsche Voetbal Bond_ (VVB), yang kemudian menjadi _Voetbalbond Indonesia Jacatra_ (VIJ). VIJ adalah cikal bakal Persija Jakarta dan salah satu pendiri PSSI pada 1930. Karena itu ia kerap disebut Bapak Persija Jakarta.

Pertandingan sepak bola ia manfaatkan sebagai medium konsolidasi. Di Stadion VIJ, ia mengajak Soekarno membuka kompetisi PSSI 1932 sesaat setelah Bung Karno bebas dari penjara Sukamiskin.

Bagi Thamrin, sepak bola adalah metafora politik: tim yang bersatu, strategi matang, dan keberanian di lapangan adalah bentuk nyata perjuangan rakyat.

Seiring pengaruhnya tumbuh, tekanan Belanda meningkat. Pengawasan intens, serangan politik, hingga ia ditetapkan tahanan rumah saat sakit.

Ia sakit, tetapi tetap menulis. Tubuhnya lemah, tetapi suaranya tetap lantang. Ketika ia wafat pada 1941, Batavia seolah menahan napas. Kota kehilangan pemuda yang tak pernah menjerit, tetapi selalu bicara untuk rakyat terpinggirkan.

Kini Jalan M.H. Thamrin berdiri di jantung Jakarta. Tetapi yang lebih penting bukan papan nama. Thamrin adalah simbol politik Betawi: pemimpin yang lahir dari integritas, keberanian, dan keberpihakan penuh pada rakyat.

Ia meninggalkan pesan: kemerdekaan bukan sekadar klaim politik, tetapi proses moral, perjuangan intelektual, dan tanggung jawab setiap warga negara.

Namanya bukan sekadar nama jalan. Namanya adalah menara sejarah yang bercahaya, menuntun orang muda memperjuangkan keadilan dan martabat bangsa. 

0 Comments:

Responsive

Ads

Here